Rabu, 19 November 2014

Kau di Balik Karya Hebat Ku



12 Dzulhijjah 1433 H                              Pena Hijau Ku/XXVIII/X 


                Langit yang abu-abu, tetesan hujan yang membasahi tubuh mungilku benar-benar telah senada dengan keadaanku detik ini. Pekik keadaan yang mematahkan semangatku dan benar-benar membuat aku tak berdaya untuk bertahta di bumi ini. Apakah Dewi Fortuna sedang tak berpihak kepadaku kali ini? Ataukah aku memang yang sedang sial? Huft… rasanya aku menjadi manusia yang kalah dalam segala hal. Kali ini aku benar-benar menjadi manusia yang sial! Ya Allah, apakah ini keadilanMu? Apakah aku tak boleh untuk menjadi pemenang? Kali ini saja? Hahhhh…. Padahal, jika aku berhasil memenangkan lomba menulis cerpen kali ini, akan aku sumbangkan untuk Bu Miftah yang sepuluh hari lagi akan operasi patah tulang.
                Aku benar-benar menyesal hari ini. Hadiah itu? Bu Miftah? Semuanya benar-benar membuatku bingung. Aku tak tau harus bagaimana. Aku berhutang banyak kepada beliau, segala nasihatnya dan keramahannya yang menentramkanku di setiap problematika hidupku. Apalagi semenjak orang tuaku yang memilih jalannya untuk berpisah dan akhirnya aku berstatus sebagai anak broken home. Aku yang dulu sebagai bintang kelas yang menjadi ketua OSIS paling faforit disepanjang kepemimpinan di sekolahku, semenjak semester akhir aku mendapat predikat murid yang suka berangkat terlambat, sering alpa, dan tidak bertanggungjawab. Semua file-file OSIS amburadul tak karuan. Dan hidupku semakin hancur dan pamorku benar-benar menurun, di mata guru-guru aku dicap buruk oleh mereka. Apalagi anggota tim OSIS  ku, sampai enggan memberikan senyumnya kepadaku. Satu persatu dari mereka menjauhiku. Melihat wajahku seperti mencium bangkai yang sudah busuk, sehingga banyak dari mereka yang memalingkan wajahnya ketika berhadapan denganku. Apalagi Kak Jasmin, yang aku idolakan dan sempat dekat denganku, kini dia juga enggan menyapaku ketika aku lewat di depan kelasnya. Rasanya dunia ini mengucilkan aku, ingin menyingkirkan aku di bumi. Hah…. Gerah.
                Untungnya masih ada Dinda yang setia menemaniku, hingga detik ini. Karena dari dulu hanya dia yang megertiku, menjadi curahan hatiku dan sahabat karibku dari kanak-kanak. Seandainya tanpa Dinda? Entah mungkin aku akan memilih jalan lenyap dari dunia ini daripada hidup bersama orang-orang yang tidak menghargaiku sebagai manusia.
                “Jen? Tak perlu kau memikirkan semuanya. Seminggu lagi kan kita akan UKK, jadi kita fokus aja ke situ, jangan pikirin dulu mereka-mereka yang tidak bersahabat denganmu. Aku selalu ada untukmu kok. Andai saja mereka bisa mengertimu. Pastilah tak akan ada dendam tercipta diantara kau dan mereka.”
                “Makasih Din, kamu memang sahabat yang baik. Kau tau Din? Cerpenku gagal, dan aku juga gagal menyumbangkan uang untuk bu Miftah operasi sepuluh hari lagi. Entah? Dengan cara apa aku membantu bu Miftah?”
                “Lho? Ah, tak apa Jen.. Walau kau belum berhasil, tapi kau tetap menjadi juara hatiku.”
                “Makasih ya Din, aku selalu merasa plong jika mencurahkan segalanya padamu dan pada bu Miftah, tapi………………….? Kini aku benar-benar rindu pada bu Miftah dan gimana kabarnya yah?”
                “Tadi sore aku habis kesana Jen, oh ya… beliau titip pesen sama kamu.”
                “Apa Din?”
                “Katanya, adik beliau om Arif yang kuliah Sastra di UI itu lho, lagi ngadain lomba menulis cerpen tingkat Nasional dan hadiahnya lumayan gede Jen!”
                “Ha? Yang bener? Ah lhu bercanda deh!”
                “Beneran…. Tau ga? Total hadiahnya itu sampe 30 jutaan untuk juara pertama. Bisa bayangin ga? Hadiahnya gede banget. Guwe aja kaget og! ”
                “Lho emang yang menyelenggarakan siapa?”
                “Sastrawan terkenal katanya, tapi aku lupa namanya siapa. Tapi kamu harus datang ke Jakarta, soalnya lomba itu bekerjasama juga dengan UI dan tempat pelaksanaanya disana. Gimana?”
                “Yah? Jauh amet? Kamu tau kan? Skill ku yang Cuma sampe kabupaten aja kalah. Apalagi nanti di sana? Ketemu sama penulis-penulis terkenal? Hahahaha.. ada-ada aja kamu! Pasti aku dapet nomor paling akhir.”
                “Eh! kamu jangan salah. Kenal sama bu Miftah kan? Beliau itu satu-satunya penulis di Sekolah kita. Dan lhu inget kan? Cerita kompleksnya yang merintis dari awal hingga jadi penulis yang sukses seperti sekarang ini?”
                “Yah, gue bener-bener inget Din. Beliau itu semangat ku, motivatorku, inspirasiku.”
                “Jadi kamu jangan mendahului takdir. Kita bisa jika kita mau! Ayo Jen, kamu harus semangat.”
                “Trus? Aku harus naik apa Din? Naik sepeda pixy black faforitku? Jakarta kan jauh!”
                “Hahahaha.. gila kamu, kalo naik sepeda? Kira-kira berapa tahun nyampenya? Ini Kudus dan butuh dua belas jam untuk sampai ke Ibu Kota, gitu aja pake bus. ”
                “Trus gimana dong?”
                “Yaudah, besok pergi aja. Nanti ayahku yang akan nganterin kamu dan tenang…. Masalah uang saku, nanti aku ambil tabungan buat kamu.”
                “Ya Allah, Kamu baik banget sih. Oke, aku ga akan ngecewain kamu, bu Miftah, dan Ayahku juga Ayahmu.”
                Esok tiba dengan penuh harapan dan mimpi yang akan terealisasi. Sepanjang perjalanan, tak ada yang aku lakukan kecuali bersahabat dengan buku karyaku dan pena hijau pemberian ayah saat Umroh tahun lalu. Pikiranku mencoba menerawang ke masa depan, andai aku punya mesin waktu seperti Doraemon si kucing yang gembul itu, pastilah aku bisa tau akan jadi apa aku nanti. Tapi aku akan melanjutkan cita-cita ayahku ketika saat muda, yaitu menjadi seorang penulis. Hah? Aku yakin, aku punya darah seorang penulis jadi aku pasti bisa melanjutkan impian beliau. Rasanya semangat ini, semakin menggebu-gebu, tak sabar aku segera mengikuti lomba dan menjadi the winner di pertandingan itu. Akhirnya tanpa terasa, mobil BMW milik Dinda yang di kendarai oleh om Mirsa tiba di Universitas yang megah itu. Dan tanpa basa-basi aku pun masuk dengan langkah yang pasti.
                Sesuatu yang kubayangkan benar-benar menjadi nyata, rival yang kutakutkan benar-benar ada dan ikut bersaing memenangkan 30 juta itu. Cerpenis-cerpenis  termasyhur di ibukota membuat nyaliku sempat menciut, dahiku sempat keriput, dan detak jantungku semakin berdebar-debar. Tapi berkat sms dari bu Miftah dua menit yang lalu, tiba-tiba menyulap kegentingan perasaanku yang takut akan kalah dipertandingan tadi. Tepat pukul 09:00 WIB pena hijau ku mulai berlaga, menorehkan sebuah cerita yang bertemakan “Guruku Pahlawanku” yang ku kisahkan pengalamanku dan bu Miftah sebagai My Inspiration, yang sangat berjasa dalam hidupku. Perjuanganku memenangkan hadiah di setiap even lomba menulis cerpen untuk guruku yang hendak operasi patah tulang. Aku tau, beliau patah tulang karenaku, sebab kecerobohanku yang menghilang dan tak ada kabar untuk Sekolahku dan bu Miftah lah yang menemukanku di sebuah rumah tua dan tak berpenghuni. Tapi, karena kecerobohanku menjatuhkan sebuah koper besar yang akhirnya mengenai kaki kiri bu Miftah. Dan akhirnya beliau harus mengalami operasi patah tulang.
                Waktupun berakhir, aku ga percaya ternyata kertas yang ku coreti dengan sebuah narasi hidupku yang ku sajikan dengan cerpen, basah di bagian judul sehingga pas dibagian itu tintanya sedikit menyebar.  Aku takut? Kertas itu mengurangi penilaian kebersihan dalam menyajikan sebuah cerita? Tapi entahlah? Wallahu A’lam, ku serahkan semua padaMu Ya Rabb. Aku harus menunggu lima jam untuk menanti hasilnya. Sembari menanti hasil tersebut, akupun mengirim sms untuk bu Miftah yang menceritakan tentang kisahku hari ini. Beliau hanya memberiku sesingkat kata yang sangat yakni, ”to enjoy a grander sight, climb to a greater height” yang artinya untuk menikmati pemandangan yang megah, mendakilah lebih tinggi lagi. Alhamdulillah, semoga Allah memberikan yang terbaik kali ini.   
                Waktu yang ku nanti telah tiba, akhirnya datang juga kau sang waktu. Tanpa basa-basi ku masuk dan duduk bersanding dengan om Mirsa. Dan pembacaan pemenang juara cerpen kali ini dibaca dengan mundur. Juara tiga bukan aku, juara dua juga bukan aku. Ah… rasanya aku sudah putus asa. Tapi om Mirsa menenangkanku bahwa masih ada juara yang pertama.
                “Dengan nilai 2727 nomor urut 27 dengan judul Guruku Pahlawanku oleh cerpenis Jenny C. Adikaryo sebagai juara pertama dalam lomba menulis cerpen tingkat Nasional yang di selenggarakan oleh Universitas Indonesia Jakarta, kepada cerpenis Jenny C. Adikaryo kami persilahkan.”
                Tetesan air suci mengalir begitu saja, aku tak percaya. Dunia seperti dapat ku raih dengan menggengamnya. Bu Miftah, Dinda, Ayah, om Mirsa, Alhamdulillah ini untuk kalian! Terkhusus untuk bu Miftah, 30 juta telah aku raih dan akan aku tebus segala kesalahanku padamu bu, walau aku tau kaki mu tak akan tertebus tapi maafkan aku, aku akan menebus dengan kobaran semangatku, aku akan bangkit untukmu. Menjadi murid yang kau banggakan, dan menjadi penulis yang hebat sepertimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar