12
Dzulhijjah 1433 H Pena Hijau Ku/XXVIII/X
Langit
yang abu-abu, tetesan hujan yang membasahi tubuh mungilku benar-benar telah
senada dengan keadaanku detik ini. Pekik keadaan yang mematahkan semangatku dan
benar-benar membuat aku tak berdaya untuk bertahta di bumi ini. Apakah Dewi
Fortuna sedang tak berpihak kepadaku kali ini? Ataukah aku memang yang sedang
sial? Huft… rasanya aku menjadi manusia yang kalah dalam segala hal. Kali ini
aku benar-benar menjadi manusia yang sial! Ya Allah, apakah ini keadilanMu?
Apakah aku tak boleh untuk menjadi pemenang? Kali ini saja? Hahhhh…. Padahal,
jika aku berhasil memenangkan lomba menulis cerpen kali ini, akan aku
sumbangkan untuk Bu Miftah yang sepuluh hari lagi akan operasi patah tulang.
Aku
benar-benar menyesal hari ini. Hadiah itu? Bu Miftah? Semuanya benar-benar
membuatku bingung. Aku tak tau harus bagaimana. Aku berhutang banyak kepada
beliau, segala nasihatnya dan keramahannya yang menentramkanku di setiap
problematika hidupku. Apalagi semenjak orang tuaku yang memilih jalannya untuk
berpisah dan akhirnya aku berstatus sebagai anak broken home. Aku yang dulu
sebagai bintang kelas yang menjadi ketua OSIS paling faforit disepanjang
kepemimpinan di sekolahku, semenjak semester akhir aku mendapat predikat murid
yang suka berangkat terlambat, sering alpa, dan tidak bertanggungjawab. Semua
file-file OSIS amburadul tak karuan. Dan hidupku semakin hancur dan pamorku
benar-benar menurun, di mata guru-guru aku dicap buruk oleh mereka. Apalagi
anggota tim OSIS ku, sampai enggan memberikan
senyumnya kepadaku. Satu persatu dari mereka menjauhiku. Melihat wajahku
seperti mencium bangkai yang sudah busuk, sehingga banyak dari mereka yang
memalingkan wajahnya ketika berhadapan denganku. Apalagi Kak Jasmin, yang aku
idolakan dan sempat dekat denganku, kini dia juga enggan menyapaku ketika aku
lewat di depan kelasnya. Rasanya dunia ini mengucilkan aku, ingin menyingkirkan
aku di bumi. Hah…. Gerah.
Untungnya masih ada Dinda yang
setia menemaniku, hingga detik ini. Karena dari dulu hanya dia yang megertiku,
menjadi curahan hatiku dan sahabat karibku dari kanak-kanak. Seandainya tanpa
Dinda? Entah mungkin aku akan memilih jalan lenyap dari dunia ini daripada
hidup bersama orang-orang yang tidak menghargaiku sebagai manusia.
“Jen? Tak perlu kau memikirkan
semuanya. Seminggu lagi kan kita akan UKK, jadi kita fokus aja ke situ, jangan
pikirin dulu mereka-mereka yang tidak bersahabat denganmu. Aku selalu ada
untukmu kok. Andai saja mereka bisa mengertimu. Pastilah tak akan ada dendam
tercipta diantara kau dan mereka.”
“Makasih Din, kamu memang
sahabat yang baik. Kau tau Din? Cerpenku gagal, dan aku juga gagal menyumbangkan
uang untuk bu Miftah operasi sepuluh hari lagi. Entah? Dengan cara apa aku
membantu bu Miftah?”
“Lho? Ah, tak apa Jen.. Walau
kau belum berhasil, tapi kau tetap menjadi juara hatiku.”
“Makasih ya Din, aku selalu
merasa plong jika mencurahkan segalanya padamu dan pada bu Miftah,
tapi………………….? Kini aku benar-benar rindu pada bu Miftah dan gimana kabarnya
yah?”
“Tadi sore aku habis kesana Jen,
oh ya… beliau titip pesen sama kamu.”
“Apa Din?”
“Katanya, adik beliau om Arif
yang kuliah Sastra di UI itu lho, lagi ngadain lomba menulis cerpen tingkat
Nasional dan hadiahnya lumayan gede Jen!”
“Ha? Yang bener? Ah lhu bercanda
deh!”
“Beneran…. Tau ga? Total hadiahnya
itu sampe 30 jutaan untuk juara pertama. Bisa bayangin ga? Hadiahnya gede
banget. Guwe aja kaget og! ”
“Lho emang yang menyelenggarakan
siapa?”
“Sastrawan terkenal katanya,
tapi aku lupa namanya siapa. Tapi kamu harus datang ke Jakarta, soalnya lomba
itu bekerjasama juga dengan UI dan tempat pelaksanaanya disana. Gimana?”
“Yah? Jauh amet? Kamu tau kan?
Skill ku yang Cuma sampe kabupaten aja kalah. Apalagi nanti di sana? Ketemu
sama penulis-penulis terkenal? Hahahaha.. ada-ada aja kamu! Pasti aku dapet
nomor paling akhir.”
“Eh! kamu jangan salah. Kenal
sama bu Miftah kan? Beliau itu satu-satunya penulis di Sekolah kita. Dan lhu
inget kan? Cerita kompleksnya yang merintis dari awal hingga jadi penulis yang
sukses seperti sekarang ini?”
“Yah, gue bener-bener inget Din.
Beliau itu semangat ku, motivatorku, inspirasiku.”
“Jadi kamu jangan mendahului
takdir. Kita bisa jika kita mau! Ayo Jen, kamu harus semangat.”
“Trus? Aku harus naik apa Din?
Naik sepeda pixy black faforitku? Jakarta kan jauh!”
“Hahahaha.. gila kamu, kalo naik
sepeda? Kira-kira berapa tahun nyampenya? Ini Kudus dan butuh dua belas jam
untuk sampai ke Ibu Kota, gitu aja pake bus. ”
“Trus gimana dong?”
“Yaudah, besok pergi aja. Nanti
ayahku yang akan nganterin kamu dan tenang…. Masalah uang saku, nanti aku ambil
tabungan buat kamu.”
“Ya Allah, Kamu baik banget sih.
Oke, aku ga akan ngecewain kamu, bu Miftah, dan Ayahku juga Ayahmu.”
Esok tiba dengan penuh harapan
dan mimpi yang akan terealisasi. Sepanjang perjalanan, tak ada yang aku lakukan
kecuali bersahabat dengan buku karyaku dan pena hijau pemberian ayah saat Umroh
tahun lalu. Pikiranku mencoba menerawang ke masa depan, andai aku punya mesin
waktu seperti Doraemon si kucing yang gembul itu, pastilah aku bisa tau akan
jadi apa aku nanti. Tapi aku akan melanjutkan cita-cita ayahku ketika saat
muda, yaitu menjadi seorang penulis. Hah? Aku yakin, aku punya darah seorang
penulis jadi aku pasti bisa melanjutkan impian beliau. Rasanya semangat ini,
semakin menggebu-gebu, tak sabar aku segera mengikuti lomba dan menjadi the
winner di pertandingan itu. Akhirnya tanpa terasa, mobil BMW milik Dinda yang
di kendarai oleh om Mirsa tiba di Universitas yang megah itu. Dan tanpa
basa-basi aku pun masuk dengan langkah yang pasti.
Sesuatu yang kubayangkan
benar-benar menjadi nyata, rival yang kutakutkan benar-benar ada dan ikut
bersaing memenangkan 30 juta itu. Cerpenis-cerpenis termasyhur di ibukota membuat nyaliku sempat
menciut, dahiku sempat keriput, dan detak jantungku semakin berdebar-debar.
Tapi berkat sms dari bu Miftah dua menit yang lalu, tiba-tiba menyulap
kegentingan perasaanku yang takut akan kalah dipertandingan tadi. Tepat pukul 09:00
WIB pena hijau ku mulai berlaga, menorehkan sebuah cerita yang bertemakan “Guruku
Pahlawanku” yang ku kisahkan pengalamanku dan bu Miftah sebagai My
Inspiration, yang sangat berjasa dalam hidupku. Perjuanganku memenangkan
hadiah di setiap even lomba menulis cerpen untuk guruku yang hendak operasi
patah tulang. Aku tau, beliau patah tulang karenaku, sebab kecerobohanku yang
menghilang dan tak ada kabar untuk Sekolahku dan bu Miftah lah yang menemukanku
di sebuah rumah tua dan tak berpenghuni. Tapi, karena kecerobohanku menjatuhkan
sebuah koper besar yang akhirnya mengenai kaki kiri bu Miftah. Dan akhirnya
beliau harus mengalami operasi patah tulang.
Waktupun berakhir, aku ga
percaya ternyata kertas yang ku coreti dengan sebuah narasi hidupku yang ku sajikan
dengan cerpen, basah di bagian judul sehingga pas dibagian itu tintanya sedikit
menyebar. Aku takut? Kertas itu
mengurangi penilaian kebersihan dalam menyajikan sebuah cerita? Tapi entahlah?
Wallahu A’lam, ku serahkan semua padaMu Ya Rabb. Aku harus menunggu lima jam
untuk menanti hasilnya. Sembari menanti hasil tersebut, akupun mengirim sms
untuk bu Miftah yang menceritakan tentang kisahku hari ini. Beliau hanya
memberiku sesingkat kata yang sangat yakni, ”to enjoy a grander sight, climb to
a greater height” yang artinya untuk menikmati pemandangan yang megah,
mendakilah lebih tinggi lagi. Alhamdulillah, semoga Allah memberikan yang
terbaik kali ini.
Waktu yang ku nanti telah tiba,
akhirnya datang juga kau sang waktu. Tanpa basa-basi ku masuk dan duduk
bersanding dengan om Mirsa. Dan pembacaan pemenang juara cerpen kali ini dibaca
dengan mundur. Juara tiga bukan aku, juara dua juga bukan aku. Ah… rasanya aku
sudah putus asa. Tapi om Mirsa menenangkanku bahwa masih ada juara yang
pertama.
“Dengan nilai 2727 nomor urut 27
dengan judul Guruku Pahlawanku oleh cerpenis Jenny C. Adikaryo sebagai juara
pertama dalam lomba menulis cerpen tingkat Nasional yang di selenggarakan oleh
Universitas Indonesia Jakarta, kepada cerpenis Jenny C. Adikaryo kami persilahkan.”
Tetesan air suci mengalir begitu
saja, aku tak percaya. Dunia seperti dapat ku raih dengan menggengamnya. Bu
Miftah, Dinda, Ayah, om Mirsa, Alhamdulillah ini untuk kalian! Terkhusus untuk
bu Miftah, 30 juta telah aku raih dan akan aku tebus segala kesalahanku padamu
bu, walau aku tau kaki mu tak akan tertebus tapi maafkan aku, aku akan menebus
dengan kobaran semangatku, aku akan bangkit untukmu. Menjadi murid yang kau
banggakan, dan menjadi penulis yang hebat sepertimu.