Kamis, 20 November 2014

Sebuah Goresan Pena



oleh Pena Hijau Ku pada 15 Juni 2012 pukul 15:57 ·

ide
muncul ketika otak bereaksi memikirkannya
mengalir melalui pipa-pipa lentur aliran darah
dan membuat tangan untuk melakukannya

ku ambil pena
torehkan cerita-cerita
ikuti alur yang ada
hingga klimaks tiba
dan antiklimaks menjadi akhirnya

sebuah goresan pena
entah itu frasa atau sebuah kalimat tanya?
ataukah sekedar sajak-sajak romantisme khusus yang tercinta
yang pasti bukan sekedar kata-kata yang tak bermakna

karena setiap yang terucap
punya maksud
setiap yang terjadi
punya arti

dan itu kan bermetamorfosis kembali
di ruang otak-otak yang berisi
bukan otak kosong tanpa arti

Rabu, 19 November 2014

Kau di Balik Karya Hebat Ku



12 Dzulhijjah 1433 H                              Pena Hijau Ku/XXVIII/X 


                Langit yang abu-abu, tetesan hujan yang membasahi tubuh mungilku benar-benar telah senada dengan keadaanku detik ini. Pekik keadaan yang mematahkan semangatku dan benar-benar membuat aku tak berdaya untuk bertahta di bumi ini. Apakah Dewi Fortuna sedang tak berpihak kepadaku kali ini? Ataukah aku memang yang sedang sial? Huft… rasanya aku menjadi manusia yang kalah dalam segala hal. Kali ini aku benar-benar menjadi manusia yang sial! Ya Allah, apakah ini keadilanMu? Apakah aku tak boleh untuk menjadi pemenang? Kali ini saja? Hahhhh…. Padahal, jika aku berhasil memenangkan lomba menulis cerpen kali ini, akan aku sumbangkan untuk Bu Miftah yang sepuluh hari lagi akan operasi patah tulang.
                Aku benar-benar menyesal hari ini. Hadiah itu? Bu Miftah? Semuanya benar-benar membuatku bingung. Aku tak tau harus bagaimana. Aku berhutang banyak kepada beliau, segala nasihatnya dan keramahannya yang menentramkanku di setiap problematika hidupku. Apalagi semenjak orang tuaku yang memilih jalannya untuk berpisah dan akhirnya aku berstatus sebagai anak broken home. Aku yang dulu sebagai bintang kelas yang menjadi ketua OSIS paling faforit disepanjang kepemimpinan di sekolahku, semenjak semester akhir aku mendapat predikat murid yang suka berangkat terlambat, sering alpa, dan tidak bertanggungjawab. Semua file-file OSIS amburadul tak karuan. Dan hidupku semakin hancur dan pamorku benar-benar menurun, di mata guru-guru aku dicap buruk oleh mereka. Apalagi anggota tim OSIS  ku, sampai enggan memberikan senyumnya kepadaku. Satu persatu dari mereka menjauhiku. Melihat wajahku seperti mencium bangkai yang sudah busuk, sehingga banyak dari mereka yang memalingkan wajahnya ketika berhadapan denganku. Apalagi Kak Jasmin, yang aku idolakan dan sempat dekat denganku, kini dia juga enggan menyapaku ketika aku lewat di depan kelasnya. Rasanya dunia ini mengucilkan aku, ingin menyingkirkan aku di bumi. Hah…. Gerah.
                Untungnya masih ada Dinda yang setia menemaniku, hingga detik ini. Karena dari dulu hanya dia yang megertiku, menjadi curahan hatiku dan sahabat karibku dari kanak-kanak. Seandainya tanpa Dinda? Entah mungkin aku akan memilih jalan lenyap dari dunia ini daripada hidup bersama orang-orang yang tidak menghargaiku sebagai manusia.
                “Jen? Tak perlu kau memikirkan semuanya. Seminggu lagi kan kita akan UKK, jadi kita fokus aja ke situ, jangan pikirin dulu mereka-mereka yang tidak bersahabat denganmu. Aku selalu ada untukmu kok. Andai saja mereka bisa mengertimu. Pastilah tak akan ada dendam tercipta diantara kau dan mereka.”
                “Makasih Din, kamu memang sahabat yang baik. Kau tau Din? Cerpenku gagal, dan aku juga gagal menyumbangkan uang untuk bu Miftah operasi sepuluh hari lagi. Entah? Dengan cara apa aku membantu bu Miftah?”
                “Lho? Ah, tak apa Jen.. Walau kau belum berhasil, tapi kau tetap menjadi juara hatiku.”
                “Makasih ya Din, aku selalu merasa plong jika mencurahkan segalanya padamu dan pada bu Miftah, tapi………………….? Kini aku benar-benar rindu pada bu Miftah dan gimana kabarnya yah?”
                “Tadi sore aku habis kesana Jen, oh ya… beliau titip pesen sama kamu.”
                “Apa Din?”
                “Katanya, adik beliau om Arif yang kuliah Sastra di UI itu lho, lagi ngadain lomba menulis cerpen tingkat Nasional dan hadiahnya lumayan gede Jen!”
                “Ha? Yang bener? Ah lhu bercanda deh!”
                “Beneran…. Tau ga? Total hadiahnya itu sampe 30 jutaan untuk juara pertama. Bisa bayangin ga? Hadiahnya gede banget. Guwe aja kaget og! ”
                “Lho emang yang menyelenggarakan siapa?”
                “Sastrawan terkenal katanya, tapi aku lupa namanya siapa. Tapi kamu harus datang ke Jakarta, soalnya lomba itu bekerjasama juga dengan UI dan tempat pelaksanaanya disana. Gimana?”
                “Yah? Jauh amet? Kamu tau kan? Skill ku yang Cuma sampe kabupaten aja kalah. Apalagi nanti di sana? Ketemu sama penulis-penulis terkenal? Hahahaha.. ada-ada aja kamu! Pasti aku dapet nomor paling akhir.”
                “Eh! kamu jangan salah. Kenal sama bu Miftah kan? Beliau itu satu-satunya penulis di Sekolah kita. Dan lhu inget kan? Cerita kompleksnya yang merintis dari awal hingga jadi penulis yang sukses seperti sekarang ini?”
                “Yah, gue bener-bener inget Din. Beliau itu semangat ku, motivatorku, inspirasiku.”
                “Jadi kamu jangan mendahului takdir. Kita bisa jika kita mau! Ayo Jen, kamu harus semangat.”
                “Trus? Aku harus naik apa Din? Naik sepeda pixy black faforitku? Jakarta kan jauh!”
                “Hahahaha.. gila kamu, kalo naik sepeda? Kira-kira berapa tahun nyampenya? Ini Kudus dan butuh dua belas jam untuk sampai ke Ibu Kota, gitu aja pake bus. ”
                “Trus gimana dong?”
                “Yaudah, besok pergi aja. Nanti ayahku yang akan nganterin kamu dan tenang…. Masalah uang saku, nanti aku ambil tabungan buat kamu.”
                “Ya Allah, Kamu baik banget sih. Oke, aku ga akan ngecewain kamu, bu Miftah, dan Ayahku juga Ayahmu.”
                Esok tiba dengan penuh harapan dan mimpi yang akan terealisasi. Sepanjang perjalanan, tak ada yang aku lakukan kecuali bersahabat dengan buku karyaku dan pena hijau pemberian ayah saat Umroh tahun lalu. Pikiranku mencoba menerawang ke masa depan, andai aku punya mesin waktu seperti Doraemon si kucing yang gembul itu, pastilah aku bisa tau akan jadi apa aku nanti. Tapi aku akan melanjutkan cita-cita ayahku ketika saat muda, yaitu menjadi seorang penulis. Hah? Aku yakin, aku punya darah seorang penulis jadi aku pasti bisa melanjutkan impian beliau. Rasanya semangat ini, semakin menggebu-gebu, tak sabar aku segera mengikuti lomba dan menjadi the winner di pertandingan itu. Akhirnya tanpa terasa, mobil BMW milik Dinda yang di kendarai oleh om Mirsa tiba di Universitas yang megah itu. Dan tanpa basa-basi aku pun masuk dengan langkah yang pasti.
                Sesuatu yang kubayangkan benar-benar menjadi nyata, rival yang kutakutkan benar-benar ada dan ikut bersaing memenangkan 30 juta itu. Cerpenis-cerpenis  termasyhur di ibukota membuat nyaliku sempat menciut, dahiku sempat keriput, dan detak jantungku semakin berdebar-debar. Tapi berkat sms dari bu Miftah dua menit yang lalu, tiba-tiba menyulap kegentingan perasaanku yang takut akan kalah dipertandingan tadi. Tepat pukul 09:00 WIB pena hijau ku mulai berlaga, menorehkan sebuah cerita yang bertemakan “Guruku Pahlawanku” yang ku kisahkan pengalamanku dan bu Miftah sebagai My Inspiration, yang sangat berjasa dalam hidupku. Perjuanganku memenangkan hadiah di setiap even lomba menulis cerpen untuk guruku yang hendak operasi patah tulang. Aku tau, beliau patah tulang karenaku, sebab kecerobohanku yang menghilang dan tak ada kabar untuk Sekolahku dan bu Miftah lah yang menemukanku di sebuah rumah tua dan tak berpenghuni. Tapi, karena kecerobohanku menjatuhkan sebuah koper besar yang akhirnya mengenai kaki kiri bu Miftah. Dan akhirnya beliau harus mengalami operasi patah tulang.
                Waktupun berakhir, aku ga percaya ternyata kertas yang ku coreti dengan sebuah narasi hidupku yang ku sajikan dengan cerpen, basah di bagian judul sehingga pas dibagian itu tintanya sedikit menyebar.  Aku takut? Kertas itu mengurangi penilaian kebersihan dalam menyajikan sebuah cerita? Tapi entahlah? Wallahu A’lam, ku serahkan semua padaMu Ya Rabb. Aku harus menunggu lima jam untuk menanti hasilnya. Sembari menanti hasil tersebut, akupun mengirim sms untuk bu Miftah yang menceritakan tentang kisahku hari ini. Beliau hanya memberiku sesingkat kata yang sangat yakni, ”to enjoy a grander sight, climb to a greater height” yang artinya untuk menikmati pemandangan yang megah, mendakilah lebih tinggi lagi. Alhamdulillah, semoga Allah memberikan yang terbaik kali ini.   
                Waktu yang ku nanti telah tiba, akhirnya datang juga kau sang waktu. Tanpa basa-basi ku masuk dan duduk bersanding dengan om Mirsa. Dan pembacaan pemenang juara cerpen kali ini dibaca dengan mundur. Juara tiga bukan aku, juara dua juga bukan aku. Ah… rasanya aku sudah putus asa. Tapi om Mirsa menenangkanku bahwa masih ada juara yang pertama.
                “Dengan nilai 2727 nomor urut 27 dengan judul Guruku Pahlawanku oleh cerpenis Jenny C. Adikaryo sebagai juara pertama dalam lomba menulis cerpen tingkat Nasional yang di selenggarakan oleh Universitas Indonesia Jakarta, kepada cerpenis Jenny C. Adikaryo kami persilahkan.”
                Tetesan air suci mengalir begitu saja, aku tak percaya. Dunia seperti dapat ku raih dengan menggengamnya. Bu Miftah, Dinda, Ayah, om Mirsa, Alhamdulillah ini untuk kalian! Terkhusus untuk bu Miftah, 30 juta telah aku raih dan akan aku tebus segala kesalahanku padamu bu, walau aku tau kaki mu tak akan tertebus tapi maafkan aku, aku akan menebus dengan kobaran semangatku, aku akan bangkit untukmu. Menjadi murid yang kau banggakan, dan menjadi penulis yang hebat sepertimu.

Seruan kami, dari hati!!!



 
Bukan sekedar sang surya yang menyinari
atau mumtaznya purnama kala bertahta itu laili

Lebih, lebih dan lebih dari itu!!!

Jika kami mengibaratkan dengan sesuatu,
pastilah kami akan menunjuki itu

Laksana “Payung”, seruan kami dari hati!!!
dia senantiasa menjadi kawan sejati
ketika Matahari bertenteng dengan terik yang menusuk diri
pula ketika hujan membasahi jagad ini
tak henti-henti berfungsi bagi kami (seruan kami dari hati!!!)

 Ketika siapapun ingin memimpin negeri kami
Berteguhlah bak payung ini
Walau tinggi tetap mengayomi
Meski besar tetap melindungi
Walau berkuasa tetap peduli
Meski hebat tetap rendah hati

(Belajar kepada sebuah “payung”, seruan kami dari hati!!!)
Pena Hijau Ku/071013/Sala3-SMG

Sesama Muslim adalah Saudara

 

  عَنْ ابْنِ عُمرَ رضي الله عنهما أنَّ رَسُوْلَ الله صلّ الله عليه وسلّم قالَ: المُسْلِمُ أَخُوْ المُسْلِم لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِيْ حَاجَتِهِ كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمِ كُرْبَةَ فَرَّجَ الله عَنْهُ كُرْبَةَ مِنْ كَرَبِ يَوْمِ الْقِيامَةِ   

      Hari ini, kita akan mengkaji tentang apa arti dari hadits di atas. Yakni tentang arti kata sebuah persaudaraan sesama muslim. menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), bahwa persaudaraan adalah (1) orang yang seibu seayah (atau hanya seibu atau seayah saja); adik atau kakak, (2) orang yang bertalian keluarga; sanak, (3) orang yang segolongan (sepaham, seagama, sederajat, dsb) kawan; teman, (4) sapaan kepada orang yang diajak berbicara (pengganti orang kedua), (5) segala sesuatu yang hampir serupa (sejenis dsb). Menurut Wikipedia bahasa Indonesia bahwa Saudara adalah kerabat keluarga laki-laki maupun perempuan yang lebih muda ataupun lebih tua. Hubungan ini mencakup yang berstatus anak kandung dari orang tua maupun sepupu dan anak angkat. Secara tradisi, panggilan saudara juga berlaku untuk panggilan seseorang yang dihormati secara formal. Dalam ilmu semantik, kata saudara bisa digunakan untuk memanggil orang kedua tunggal atau jamak. Bentuk feminin dari saudara adalah saudari.
        Nah, dari pemaparan pengertian-pengertian tentang "saudara" di atas yakni berkaitan dengan penggunaan kata أَخُوْ sebagai perumpamaan bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya adalah saudara yang kedekatannya lebih dekat daripada sekedar teman atau sahabat. Karena yang disebut dengan saudara walaupun berbeda agama ataupun keyakinan tetap saja menjadi saudara, tetap saja merasa dipersatukan oleh satu rahim dan tetap saja merasa menjadi satu aliran darah yang sama. Begitu pula dengan perumpamaan seorang muslim dengan muslim lainnya mereka seakan-akan dipersatukan oleh rahim ISLAM, yang mengalir satu aliran darah keyakinan, ketauhidan.
        Sesuai dengan konteks hadits diatas bahwa terdapat lima indikator sikap tentang persaudaraan, yakni akan kita jelaskan satu persatu :
1.  لاَ يَظْلِمُهُ / عَدَمُ التَظْليْم  yakni tidak berbuat dzalim kepada sesama manusia. Dzalim sendiri bermakna segala sesuatu yang tidak tepat pada tempatnya. Jadi sesama muslim kita dilarang untuk menganiaya terhadap muslim yang lainnya. Arti kata menganiaya yakni dicondongkan dengan merugikan orang lain. 
2. لاَ يَسْلِمُهُ / عَدَمُ اللامباَلاَةِ yang bermakna tidak membiarkan muslim yang lainnya di Dzalimi dan menahan seorang muslim untuk tidak berbuat Dzalim kepada yang lain. Jika indikator yang pertama tadi subjeknya adalah kita dan untuk indikator yang kedua ini subjeknya adalah muslim yang lainnya. Bahwa kita harus memiliki rasa empati ketika kita sedang melihat saudara muslim kita dianiaya oleh orang lain. Begitupun saat saudara muslim kita itu sedang akan berbuat Dzalim kepada yang lain, dengan cara menahan mereka supaya tidak jadi berbuat kedzaliman. 
3.   مَنْ كَانَ فِيْ حَاجَتِهِ كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ / تكافُلْ barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Jikalau melihat saudara kita sedang mengalami kesusahan bantulah mereka semampu kita, sekuat kita. Misalkan melihat saudara kita sedang dilanda musibah, ciptakan kembali rasa empati agar hati kita tergerak selalu untuk dapat menjadikan diri kita itu bermanfaat bagi orang lain. Allah pula telah menjanjikan kepada kita, bahwa jika kita membantu saudara kita dengan ikhlas maka Allah pula dengan senang hati membantu kita. Begitulah keuntungan kita tentang Hablum Minannas ini. 
4. مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمِ كُرْبَةٌ فَرَجَ اللهُ عَنهُ كُرْبَةُ مِنْ كَرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ / تَنَاصُرُ / تَعَاوُن barang siapa yang melapangkan saudaranya ketika sedang mengalami kesusahan, maka Allah akan melapangkannya di hari kiamat nanti. Indikator yang keempat ini semi mirip dengan yang di atasnya hanya saja balasan Allah yakni di akhir kiamat kelak yang ditunjukkan dengan isim zaman يَوْمِ الْقِيَامَةِ ini. 
5. مَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ الله يَوْمَ القِيَامَةِ / عَوْرَة barang siapa yang menutupi aurat saudara muslimnya maka Allah pula akan menutupi auratnya di hari kiamat kelak. Arti kata aurat ini memiliki dua pengertian, yang pertama aurat secara inderawi dalam kajian fiqh-Islam yakni bagian-bagian tubuh yang harus ditutupi dengan kain atau hijab (penghalang) agar diterimanya suatu ibadah. Kemudian dalam kajian maknanya / secara kontektual bermakna aib, cacat, keburukan. Jadi sesama muslim kita dilarang untuk adu domba, ghibah, dsb. Berbincang tentang ghibah, bahwa sudah sangat jelas jika itu akan merugikan untuk semua manusia khususnya sesama muslim yang konotasinya itu membuka aib seseorang dan Allah akan menutup aib seseorang jika ia mau menutupi aib saudaranya. 

      Demikianlah sedikit tentang persaudaraan sesama muslim. Jadilah muslim yang saling menguatkan, lebih enak kan jika kita berangkat bersama-sama menuju surga daripada sendirian?? :) maka dari itu, dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun seorang muslim, kita tetaplah saudara, kita tetaplah sedarah, serahim!!! buanglah rasa permusuhan kepada yang lain, ciptakanlah kedamaiaan, sebarkanlah kesejahteraan, sebarkanlah salam, sebarkanlah senyuman manis itu....